6 Bahaya yang Intai Usai Kasus Data Bocor Tokopedia-Bukalapak

6 bahaya yang intai usai kasus data bocor tokopedia-bukalapak
Ilustrasi peretas (Ist)
NewsTekno - Beberapa pakar keamanan siber dan pengamat digital menekankan soal bahaya yang intai pengguna setelah kasus data bocor Tokopedia dan Bukalapak.

Meski Tokopedia dan Bukalapak menyebut data pengguna aman. Namun data pribadi pengguna lain telah terekspos dan berpotensi membahayakan pengguna.

Data yang bocor yang tersebar di internet, data-data lain seperti email, nama lengkap, nomor ponsel, alamat, tanggal lahir, hingga jenis kelamin.

Menurut mereka, data-data itu tetap bisa disalahgunakan oleh penjahat, terutama yang berkaitan scam dan rekayasa sosial (social engineering). 

Sebelumnya, data 91 juta akun dan 7  juta akun pedagang Tokopedia dilaporkan bocor. Tokopedia menyebut ada usaha peretasan terhadap data pengguna tanpa membuat pengajuan jelas. Lebih lanjut layanan ecommerce itu memastikan password dan data pembayaran pengguna aman.

Kepada CNNIndonesia, pakar digital sekaligus Direktur Kernels Indonesia (Drone Emprit), Ismail Fahmi sempat mengkritik kalau pihak Tokopedia tak pernah memberikan pernyataan bahwa benar ada data pengguna yang bocor. Padahal jelas data pribadi pengguna telah tersebar, meski kata sandi dan informasi keuangan tak bocor.

Teranyar, akun 13 juta pengguna Bukalapak kembali dijual di forum peretas. Pihak Bukalapak memastikan tidak ada data baru pengguna yang bocor. Berdasarkan penelusuran internal, menurut Bukalapak data tersebut serupa dengan data bocor tahun 2019.

Berikut sejumlah risiko kejahatan siber yang bisa terjadi dengan memanfaatkan data-data tersebut.

1. Telemarketing

Data nomor telepon bisa diperjualbelikan untuk kepentingan telemarketing. Maka tak heran jika tiba-tiba pengguna ditelepon dan ditawarkan sebuah jasa atau produk.

Tiba-tiba orang yang menelepon sudah mengetahui nama lengkap Anda meski Anda tak pernah berafiliasi dengan perusahaan tersebut sama sekali.

SMS spam berbau penipuan mulai penawaran berhadiah juga cukup menjengkelkan. Anda bisa menjadi 'korban' telemarketing ketika data nomor ponsel Anda sudah tersebar.

2. Modal Penipuan Phising Scamming

Pakar keamanan siber dari Vaksin.com, Alfons Tanujaya juga mengingatkan bahaya scam dan phising. Scam adalah tindakan penipuan dengan berusaha meyakinkan pengguna, misal memberitahu pengguna jika mereka memenangkan hadiah tertentu yang didapat jika memberikan sejumlah uang.

Sementara phising adalah teknik penipuan yang memancing pengguna, misal untuk memberikan data pribadi mereka tanpa mereka sadari dengan mengarahkan mereka ke situs Tokopedia palsu.

Sementara Analis media sosial Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi mengingatkan bahaya serangan rekayasa sosial, pertama-tama penjahat akan membuat profil korban terlebih dahulu dengan mengandalkan data-data yang sudah diperoleh.

Lantas penjahat siber bisa membuat skenario penipuan berdasarkan profil tersebut, untuk mencari celah agar bisa menipu korban.

Salah satu contoh penipuan yang paling sering terjadi adalah penipuan dengan modus penjahat mengaku sebagai teman korban dan meminta sejumlah uang atau seperti kasus 'mama minta pulsa' yang dulu sempat tren.

3. Bobol layanan lain

Pakar keamanan siber dari CISSRec, Pratama Persadha mengingatkan data nomor telepon dan sebagainya itu bisa digunakan untuk membobol akun media sosial atau layanan lain. Sebagai contoh untuk membobol layanan pembayaran digital seperti Gopay atau Ovo.

Pratama mengatakan caranya cukup mudah, pelaku tinggal login dengan nomor telepon dan meminta kode one time password (OTP).

Selanjutnya pelaku bisa menelepon korban dan mengaku sebagai pihak Tokopedia maupun platform lain yang digunakan korban untuk meminta kode OTP itu.

"Cara ini sering berhasil untuk mengambil alih akun GoPay para korban, cukup dengan mengetahui nomor seluler yang terdaftar," kata Pratama.

4. Bongkar kata kunci

Alfons mengatakan data tanggal lahir dan email yang bocor juga bisa jadi modal peretas untuk mengambil alih akun.

Sebab tanggal lahir sering digunakan sebagai kata sandi. Oleh karena itu, Alfons menyarankan agar jangan menggunakan tanggal lahir sebagai kata sandi.

Selain itu, ia menyarankan agar mengaktifkan sistem pengamanan  two factor authentication (TFA) dengan menggunakan one time password (OTP) melalui SMS hingga USSD. TFA melibatkan pihak ketiga yaitu operator untuk mengirimkan OTP yang digunakan untuk otorisasi transaksi.

5. Bikin akun pinjaman online diam-diam

Tak hanya itu, penjahat juga bisa mengajukan peminjaman di aplikasi pinjaman online dengan bermodalkan data-data yang sudah bocor. Pertama-tama peretas harus mampu mengumpulkan data KTP dari data-data yang telah bocor.

Kemudian peretas bisa mengajukan pinjaman untuk menarik sejumlah uang dari aplikasi pinjaman online yang kurang baik sistem pemeriksaannya.

"Pada akhirnya nanti korban adalah paling dirugikan karena datanya nanti akan disebar ke sejumlah orang dan web sebagai orang dengan sejumlah utang," ujar Pratama.

6. Profiling untuk target politik atau iklan di media sosial

Ismail mengatakan data-data personal yang diambil bisa dipakai untuk rekayasa sosial hingga profiling (membuat profil pengguna).  Di sisi lain Pratama  mengatakan apabila 91 juta akun tersebut diproses, maka big data itu bisa dianalisa yang bermanfaat untuk profiling penduduk.

Misalnya berdasarkan umur dan demografi penduduk berdasarkan lokasi, hobi, hingga jenis kelamin. Big data tersebut bisa digunakan untuk sosialisasi politik maupun target iklan di media sosial.

Hal ini serupa dengan yang dilakukan Cambridge Analytica dengan data pengguna Facebook. Perusahaan itu menggunakan profiling warga AS untuk menargetkan artikel tertentu kepada pengguna. Artikel ini berisi penggiringan opini agar warga pada akhirnya mendukung calon Presiden Donald Trump saat itu. [Blog Teknisi]

Sumber : CNN Indonesia

Posting Komentar untuk "6 Bahaya yang Intai Usai Kasus Data Bocor Tokopedia-Bukalapak"