Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sumber Data Studi Hydroxychloroquine Tak Jelas, Jurnal Minta Maaf

Sumber Data Studi Hydroxychloroquine Tak Jelas, Jurnal Minta Maaf
WHO Director-General Tedros Adhanom Ghebreyesus attends a daily press briefing on the new coronavirus at the WHO headquarters on March 2, 2020, in Geneva. 

NewsTekno - Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah memutuskan untuk melanjutkan kembali uji klinis hydroxychloroquine kepada pasien Covid-19, Rabu 3 Juni 2020. Menyusul keputusan itu ada pencabutan publikasi sebuah makalah ilmiah dari jurnal medis The Lancet.

Makalah itu berjudul "Hydroxychloroquine or chloroquine with or without a macrolide for treatment of COVID-19: a multinational registry analysis". Makalah itu berasal dari sebuah studi yang menemukan penggunaan hydroxychloroquine malah meningkatkan risiko kematian pasien Covid-19 lewat efek samping ritme jantung yang terganggu. Studi atas 100 ribu pasien ini yang memaksa WHO membekukan uji klinis chloroquine per 25 Mei lalu.

Sejumlah studi observasi lain sebetulnya juga tidak menemukan manfaat dari penggunaan obat malaria, radang sendi, dan lupus itu untuk pengobatan pasien penyakit virus corona 2019. Tapi hanya yang dimuat di The Lancet yang menyebut adanya tingkat kematian yang meninggi pada pasien Covid-19 penerima hydroxychloroquine.

Sejumlah ilmuwan di luar kelompok studi itu sempat mempertanyakan sumber dan analisis data pasien yang digunakan hingga didapat kesimpulan itu. Data diketahui dipasok sebuah perusahaan yang tak banyak dikenal, Surgisphere Corporation berbasis di Chicago, Amerika Serikat. Para ilmuwan dari luar itu menunjuk adanya inkonsistensi data yang sebagian langsung dikoreksi, selain ketiadaan transparansi tentang negara dan rumah sakit asal data.

Dalam pernyataannya kepada pers, 3 Juni lalu, Sekjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan kalau badan dunia itu telah selesai meninjau data tingkat kematian yang dimaksud studi itu dan mendapati, “tidak ada alasan untuk memodifikasi uji yang telah berjalan.”

Tedros lalu menginstruksikan para peneliti yang bekerja dalam uji klinis skala besar di bawah naungan WHO, Solidarity Trial, untuk kembali menguji hydroxychloroquine bersama sejumlah kandidat obat Covid-19 yang telah ditetapkan sebelumnya. Sebanyak lebih dari 4000 rumah sakit di 35 negara berpartisipasi dalam Solidarity Trial, yang melibatkan ribuan pasien.

The Lancet, dalam pernyataannya pada Kamis 4 Juni 2020, mengungkapkan kalau makalah "Hydroxychloroquine or chloroquine with or without a macrolide for treatment of COVID-19: a multinational registry analysis" akhirnya telah ditarik tiga penelitinya. Alasannya, menurut The Lancet, ketiganya tidak mampu menyelesaikan audit oleh tim independen atas data yang membuat analisis mereka diragukan.

“Mereka tidak lagi bisa mengkonfirmasi fakta dari sumber data primer yang digunakan,” kata The Lancet sambil menambahkan bahwa masalah integritas ilmiah amat sangat serius.

Mengatakan kalau kolaborasi untuk setiap publikasi ilmiah murni dilandasi niat baik dan kebutuhan mendesak di kala pandemi Covid-19, The Lancet menyatakan, “Kami memohon maaf kepada Anda, para editor dan pembaca jurnal ini atas hal memalukan dan ketidaknyamanan atas apa yang telah kami sebabkan.”

Surgisphere juga menyediakan data untuk studi yang lain yang meneliti tekanan darah pada kasus Covid-19. Hasil studi yang satu ini dipublikasukan dalam New England Journal of Medicine pada bulan lalu.

Tak ayal hasil studi ini pun ikut dipertanyakan terkait basisdata yang digunakan hingga pada Selasa lalu, bareng editor di The Lancet, New England Journal pun mengungkap keprihatinannya atas studi yang sudah mereka muat. [bt]

FOX NEWS | THE GUARDIAN | THE LANCET | STATNEWS 

Posting Komentar untuk " Sumber Data Studi Hydroxychloroquine Tak Jelas, Jurnal Minta Maaf "

Berlangganan via Email